Minggu, 02 Oktober 2011

ASTA KOSALA KOSALI: HARMONI DALAM ARSITEKTUR BALI


Pengantar
                Sebenarnya saya merasa agak malu menulis segala sesuatu yang berkaitan dengan yang namanya Bali, apapun itu. Memang saya bersuku Bali. Tetapi saya sudah tidak dilahirkan di Bali dan, yang paling parah, sampai tulisan ini dibuat, saya belum pernah ke Bali! Hal itu menyebabkan saya enggan mengaku orang Bali. Lebih baik mengaku bersuku Bali dan jika ditanya dari mana, maka saya langsung menjawab “dari Sulawesi Tengah.” Saya juga tidak mau menyebut secara spesifik, bahwa saya berasal dari daerah bernama Parigi. Hal itu sengaja saya sembunyikan karena ketika pertama kali tiba di Sulawesi Utara dan menyebut bahwa saya berasal dari Parigi, orang yang bertanya langsung cengar-cengir, senyum-senyum yang saya tidak tahu maksudnya. Baru ketika seorang teman mengatakan bahwa di sini parigi berarti sumur, apalagi ditambah dengan dolom(ng?) (parigi dolom-ng?) mereka seakan-akan menyindir saya. Pengantar singkat ini mungkin akan mengarahkan kebingungan pembaca tentang budaya apa yang ada dalam diri saya. Saya juga tidak tahu dengan pasti.
                Namun demikian, ada keinginan dalam diri saya untuk mendalami lagi budaya leluhur saya. Sebab saya mengamati di tempat kelahiran saya di Sul-Teng, khususnya orang-orang tua yang bersuku Bali,  terdapat kecenderungan renesans, menginginkan kembali budaya asli (atau juga kuno, klasik) mereka. Mungkin mereka telah tersadar bahwa memelihara budaya itu baik, walaupun berada di daerah transmigrasi. Orang Yahudi saja tetap memelihara budaya mereka di diaspora, maka pikir saya dan tentunya juga orang-orang tua saya, mengapa budaya Bali kami tidak dijaga? Tentu dengan tidak melupakan perkembangan masyarakat kontemporer.
Saya katakan demikian, karena di tempat saya terdapat upaya untuk menjembatani budaya Bali tersebut dengan (mungkin) modernitas pengaruh Eropa.  Hal itu dinampakkan dengan model gereja yang meniru arsitektur Eropa, seperti umumnya arsitektur gereja di Minahasa, tetapi tetap tidak melupakan unsur-unsur Bali, seperti bentuk pagar, daun pintu, mimbar, maupun simbol-simbol lainnya yang mencirikan Bali. Sehubungan dengan hal ini, saya akan mengatakan bahwa inilah kontekstualisasi yang sedang dijalankan, sadar atau tidak.
Dalam pergulatan ini, saya sadar bahwa pengenalan saya terhadap budaya sendiri hanya sepenggal saja. Oleh karena itulah saya berupaya untuk memahami kembali budaya saya sebagai orang Bali. Saya juga sadar bahwa upaya kontekstualisasi yang sedang digiatkan oleh gereja membutuhkan pemahaman yang baik akan konteks yang dihadapi. Konteks terdekat saya adalah keluarga Bali. Di sinilah saya hendak membagi pengetahuan saya tentang budaya bali, khususnya dari segi arsitektur (walaupun saya bukan arsitek), sebagai upaya untuk mengkontekstualisasikan Injil.
Asta Kosala Kosali
                Leluhur saya pada kenyataannya adalah orang Bali yang beragama Hindu. Kakek saya juga sempat merasakan hidup sebagai orang Bali Hindu, yang ketika itu dipersiapkan untuk menjadi pendeta Hindu (pedanda), sebelum akhirnya menikah dan masuk Kristen. Umum dipahami bahwa setiap yang namanya Bali pasti identik dengan Hindu. Karena itu tidaklah mengherankan apabila walaupun sudah Kristen, nuansa Hindu itu masih terasa. Hal ini mengantar saya pada pemahaman bahwa hinduisme dalam diri orang Bali, bukan hanya menunjuk pada suatu agama, tapi juga sistem kebudayaan maupun world view masyarakatnya. Itu kesan saya dari dialog-dialog yang terjadi dengan para tua-tua Kristen Bali di tempat saya. Yang membedakan mereka dengan Hindu hanyalah model ibadahnya. Selebihnya sama: cara bertani, bermasyarakat dan bergaul.  Sehubungan dengan ini, maka saya mau mengatakan bahwa kebudayaan orang Bali itu berada dalam bingkai Hinduisme. Begitu pula arsitekturnya. 
                Bagi orang Bali, teknik arsitektur rumah tertuang dalam apa yang dikenal dengan asta kosala kosali, suatu risalat arsitektur suci yang ditulis dalam huruf Jawa kuno pada daun lontar (Bali: ental). Di dalamnya terdapat serangkaian rumus yang rinci berkaitan dengan ukuran, letak, dan pemilihan dan penempatan jenis bangunan secara tepat.
                Dalam kosmologi Bali, dunia dibagi menjadi tiga, yaitu dunia bawah (buhr) merupakan tempat kekuasaan roh-roh jahat, dunia tengah atau dunia manusia (buwah) dan dunia atas atau dunia surga (swah). Pandangan dunia seperti ini mengingatkan saya kepada kosmologi dalam kitab Kejadian.
                Kosmologi ini dipahami sebagai jagad raya yang ditempatkan dalam paham dharma (hal-hal baik) sebagai cara hidup agar dapat menuju moksha, tujuan akhir kehidupan, tanpa melalui lagi proses reinkarnasi. Mokhsa dapat dicapai apabila semua hidup dalam keselarasan dengan makhluk lain. Keselarasan inilah sikap hidup yang mulia yang harus dijaga. Arah yang benar harus diperhatikan, sebab segala sesuatu di alam memiliki tempat yang ideal dan karena itu harus diatur dan diserasikan. Tujuannya adalah pencapaian keselarasan antara manusia dan lingkungannya. Inilah yang disebut dengan jagad kecil.
                Saya kembali mengatakan bahwa kosmologi Bali memiliki kesamaan dengan kosmologi dalam Alkitab. Gunung dipahami sebagai tempat Yang Ilahi, laut sebagai tempat yang jahat, dan dataran antara gunung dan laut sebagai tempat manusia. Dalam asta kosala kosali, disebutkan bahwa arah menghadap gunung (kaja) merupakan arah yang baik, murni dan suci. Sedangkan arah menuju laut (kelod) merupakan arah yang tidak baik, kotor dan tidak murni. Bersamaan dengan ini, arah mata angin juga turut ambil bagian dalam mengatur tata ruang rumah orang Bali. Pusat adalah timur-barat. Timur (kangin) merupakan arah yang suci dan barat (kauh) merupakan arah yang kotor. Timur laut (kaja kangin) biasa dianggap sebagai tempat yang menguntungkan. Sedangkan barat daya (kauh kelod) merupakan tempat yang kurang menguntungkan. Mencermati ini, saya teringat dengan keadaan kampung saya dan juga kampung tetangga, tidak ada yang menghadap ke laut. Memang rumah-rumah di tempat saya berpatokan pada jalan raya, tetapi rupanya hal ini tetap diperhatikan.
                Acuan lain yang juga digunakan adalah tubuh manusia. Dengan kata lain terdapat kiasan antara tubuh manusia dengan bangunan yang ada. tempat ibadah keluarga disamakan dengan kepala, ruang untuk menerima tamu sebagai tangan, halaman tengah sebagai pusar, tungku sebagai kelamin, dapur dan lumbung (klumpu) sebagai kaki, dan tempat sampah sebagai anus.
                Berhubungan dengan penjelasan ini, saya tidak tahu apakah orang yang membacanya dapat mengerti mengingat ini adalah salah satu unsur dari budaya saya. Pada dasarnya ini adalah sarana untuk masuk pada kedalaman teologi, khususnya penciptaan.
Budaya: Penyataan Daya Kreatif Allah
                Saya tidak tahu apakah banyak orang akan setuju dengan judul yang saya beri pada bagian ini, bahwa kebudayaan merupakan penyataan daya kreatifitas Allah yang mencipta, yang coba diterjemahkan dalam kehidupan keseharian manusia di manapun tempatnya. Mengapa demikian? Hal itu terjadi karena teologi penciptaan, yang bersumber dari Kejadian 1-2, mengantar pada pemahaman bahwa Allah adalah Pencipta sekaligus Pengatur alam semesta ini: dari khaos kepada ketertiban. Allah membuat segala sesuatu yang ada di alam ini menjadi selaras dan, tentunya, baik (Ibr. tov) dalam pandangan-Nya. Oleh karena itu manusia diharapkan untuk hidup selaras dengan alam semesta ciptaan-Nya ini.
                Choan Seng-Song mengatakan bahwa dalam agama manusia memiliki konsentrasi energy dinamika budaya manusia serta energi kreatif. Di sinilah dipahami bahwa agama adalah sintesis kebudayaan, yang didalamnya terdapat persekutuan antara yang ilahi dan yang insani terungkap dalam bentuk yang kasat mata tapi kadar yang sangat tinggi. Ini pula yang membawa pada keyakinan bahwa dinamika budaya manusia dapat ditemukan dalam persekutuan dengan dinamika budaya Allah yang diwujudkan dalam ciptaan-Nya. Oleh karena itu yang terjadi dalam kebudayaan adalah Roh penciptaan Ilahi memberi dampak kepada roh manusia untuk menerjemahkan yang sorgawi ke dalam yang duniawi.                
Spiritualitas Arsitektur Bali: Harmoni Dalam Jagad Raya
Dari rumitnya ketentuan asta kosala kosali, nampak spiritualitas yang hendak ditekankan: harmoni dan keselarasan dengan alam semesta. Kesempurnaan hanya dapat dicapai bila terjadi harmoni dalam alam ini.  
                Saya tidak ingin membandingkan budaya yang satu dengan budaya yang lain. Maksud saya, hal ini berhubungan dengan teologi dalam konteks kita bila dibandingkan dengan teologi barat yang selama ini membumihanguskan budaya di bumi di mana mereka  menyebut diri memberitakan Injil. Mungkin, dalam proses pemberitaan Injil itu, yang ditekankan adalah spiritualitas arsitektur Gothik dengan ciri ke-tak-selara-san dan ke-tak-sepadan-nan. Maka, benarlah apa yang dikatakan oleh Sam Ratulangi kepada Belanda: “benar, kamu telah memelekkan mata kami dengan huruf, tetapi kamu juga telah mencabut kami dari akar budaya kami!”
                Agaknya perlu memikirkan kembali bagaimana cara berada kita, sebagai gereja, berkaca dari budaya kita. Saya telah memberi contoh, bagaimana arsitektur Bali memberi nuansa keselarasan dan harmoni dalam hidup. Kiranya ini pula yang mengantar kita untuk berefleksi dalam konteks kita masing-masing. Konteks yang penuh dengan kekacauan, ketidaksepadanan, bencana alam, bencana sosial, ketegangan (bukan hanya di masyarakat, pemimpin gereja pun bertegang! Semua bertegang!). 
Mungkin kita perlu merenung dan mencari ketenangan batin dalam harmoni dengan alam. Atau kita perlu belajar dari “rumput yang bergoyang”. Ia hidup dalam harmoni alam, dalam gerakan tarian Allah.     

                             

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar